Disaat itu setelah terjadi kelakuan terburuk didalam hidupku yang membuat orang tuaku menangis dan kecewa di dalam hatinya. hari itu adalah hari dimana aku telah melakukan sebuah kesalahan besar dalam hidupku. Dulu aku adalah seorang pecinta Game, namun lama-kelamaan aku mulai kecanduan. Di malam itu, kedua orang tuaku memutuskan untuk lebih mambatasi dan memotivasi diriku untuk meninggalkan pekerjaan gamer ku.
Saat itu aku masih kelas 8 SMP yang memang benar kata orang-orang dan guru-guru SMP ku kalau dimasa kelas itu, anak-anak mulai terlihat kenakalannya. Akan tetapi aku ingin merubah kembali jalan hidupku. Disitulah aku mengikuti sebuah seminar yang diadakan sebuah bimbingan belajar di daerahku. Aku mengikutinya dengan tak serius, namun setelah melihat sebuah video tentang perjuangan seorang orang tua dan kesuksesan seorang adam khoo, aku mulai merasa di dalam diriku tersulut api semangat untuk lebih giat dalam belajar. Sesampainya di rumah aku menunjukkan dan bercerita tentang kegiatan di dalam seminar tadi. Setelah itu, aku pun berniat untuk les di bimbel tersebut.
Akhirnya orang tuaku setuju dengan langkah yang aku ambil, meskipun pertamanya mereka tidak menyetujuinya. Dan aku pun merasa bahagia mendengarnya. Sejak saat itu, aku membangun lagi kepercayaan yang diberikan kepada orang tuaku. Aku mulai menata pondasi kepercayaan mereka. Dan aku prnah berjanji kalau langkah yang aku ambil ini telah tepat. Seminggu pun berlalu, aku diajak ayahku untuk pergi ke kantor bimbel tersebut. Biayanya sangat mahal saat itu bagi keluarga kami yang sederhana. Tapi ayahku dapat bernafas lega karena untuk membayar biaya yang wow itu, ayahku harus menyicilnya. Di dalam hatiku terasa bahagia, karena inilah jalan yang aku ambil untuk masa depanku.
Setelah mendaftar, aku harus mengikuti sebuah tes IQ dan pengenalan gaya belajarku. Pada saat tes tiba, aku sendirian seperti anak hilang bingung entah kemana sedangkan yang lainnya mereka terlihat seperti anak orang mampu semua dengan pakaian modis mereka. Disaat itu aku sangat minder untuk bergaul dengan mereka, apalagi wajahku yang kayak begini (sudah tahu kan). Namun aku tidak peduli dengan itu semua, ayahku mengatakan kalau orang tidak dilihat dari luarnya dan itupun semakin memacuku untuk lebih bersemangat lagi. Tes pun dimulai. Aku memasuki sebuah ruangan dan aku melihat mereka yang enjoy dengan tes tersebut sedangkan aku deg-degan minta ampun. Lalu aku duduk di belakang sebelah pojok. Disitu aku berada disamping anak yang wajahnya sedikit China.
Setelah kami semua sudah siap untuk tes, datanglah seseorang seperti guru yang membagikan soal dan lembar jawaban kepada kami. Dia pun juga memberikan pengarahan bagaimana cara menjawabnya. Namun, soal yang aku kerjakan lumayan cukup sulit, terutama di soal IPA. Jujur, aku dulu sedikit tidak menyenangi pelajaran tersebut dan aku menjawab soal tersebut dengan sesuka hati. Setelah sekitar 30 menit aku mengerjakan soal, tiba-tiba ada yang membuka pintu. Ternyata dia adalah anak yang terlambat mengikuti tes, namanya adalah Rezza. Aku tidak memperdulikannya, aku terus saja mengerjakan soal. Setelah selasai mengerjakan tugas, dua orang lainnya pun selesai, satu orang wajah China tadi dan satu cewek yang tubuhnya ideal ( nggak tinggi nggak pendek , nggak kurus dan nggak gemuk). Namanya adalah Dinda Putranti. Lalu kami bertiga keluar runangan dan langsung mengumpulkan jawaban dan soal kami di guru atau staff tersebut.
Dua minggu berlalu, setelah menunggu hasil tes tersebut, akhirnya aku masuk di Program PJ di ruangan yang nggak dingin nggak panas, yakni Ruang 10. Di ruangan itulah pertama kali aku seperti aku bertemu teman-teman yang bisa dibilang ada yang pinter dan ada yang sedang-sedang anaknya. Di dalam kelas itu, aku mengira hanya aku yang berasal dari sekolah di ujung kota, namun ada satu anak yang satu SMP denganku, namanya Rizchi. Aku mulai berkenalan dengannya. Hubungan kami baik.
Hari pertama memulai pelajaran di kelas itu, semua temanku masih diem-diem, jadinya di kelas itu terasa sepi. Bel berbunyi, dan dating anak dengan postur tubuh gede dan berkacamata, namanya Irfan. Lalu dia duduk di sebelahku di bangku baris pertama deratan kedua. Hari itu pelajaran Matematika yang diajar sama Bu Inna. Di tengah-tengah pelajaran, Irfan menyakan namaku dan dua orang di sebelah kanan kami. Kedua orang tersebut bernama Ghofur dan Nauval. Irfan dan Nauval berasal dari sekolah yang sama, yaitu SMPN 6 SDA. Mereka adalah teman akrab.
Di saat itulah aku mengenal seorang Ayunda. Dia berasal dari SMPN 3 SDA dan teman sebangkunya Aubrea yang berasal dari SMP yang sama. Di sela-sela peajaran, Bu Inna meminta kami untuk memperkenalkan diri masing-masing.
